Hanya ada dua cara untuk menjalani hidup ini :
cara pertama adalah menganggap seolah-olah tidak ada keajaiban
cara kedua adalah menganggap segala sesuatu adalah keajaiban
DAN KEHIDUPAN BERJALAN LAKSANA ALIRAN AIR SUNGAI ITU...
Hidupku telah lengkap...lalu kau datang dan akupun kehilangan sesuatu... yang kutemukan kembali...ketika kau ada disiku.... (081204)

Air untuk semua (STOP PRIVATISASI AIR!!!)
Cinta adalah aku dan kamu, karena tlah kutitipkan cinta dalam genggamanmu, airku mengalir dalam setiap denyut nadimu dan separuh napasmu ada padaku
|
 |
Thursday, June 21, 2007
Ketika Dunia yang besar semakin menyempit
Kemarin ketika mengobrol di sela-sela tugas panitia UAS (yang bikin males banget itu), kukatakan pada tetehku itu, rasanya semakin dewasa, pergaulan semakin luas tetapi dunia semakin menyempit.Kenapa?...Karena setiap orang tumbuh, dan tidak semua pertumbuhan bisa diterima oleh orang lain. Pernah ngga datang pada suatu reunian, kemudian di tengah obrolan yang seru, dalam hati qta bertanya siapa sebetulnya orang-orang yang sedang qta ajak bicara ini? Mengapa mereka begitu berbeda? Benar ngga sih kalo kita pernah berteman sebegitu akrab sebelum ini? Mengapa pemikiran dia kaya gitu?...sampe Kok dandanannya aneh banget seeh? Akhirnya teman-teman terdekatpun kala mahasiswa atau kala sekolah, menjadi orang-orang yang benar-benar asing. Atau mungkin qta bertemu dengan seseorang yang di masa kuliah atau sekolah dulu...rasanya Engga Banget deh bwt dijadiin temen, tapi ketika kita bersua sekarang, dia menjadi seseorang yang sangat memahami kita? Akhirnya, aku mengerti mengapa orang selalu bilang sahabat sejati sulit dicari. Memang sih, semakin dewasa, semakin banyak teman, bukan hal yang aneh kalo kita bertemu seseorang, dan menyadari ternyata kita mengenal orang yang sama (paling gampang liat aja di Friendster deh). Tapi semakin sering juga terasa, di tengah kumpulan orang yang kita sebut "teman atau kolega", sebetulnya kita tidak pernah benar-benar mengenal mereka. Akhirnya dunia yang besarpun semakin menyempit, dan kitapun enggan untuk menyentuh dunia di luar dunia kecil kita.
Posted at 03:54 pm by pipitkecil
Permalink
Friday, May 25, 2007
TERIMA KASIH TUHAN, KARENA AKU BISA TIDUR NYENYAK HARI INI...THANK U...THANK U...THANK U
Posted at 12:35 pm by pipitkecil
Permalink
Tuesday, April 10, 2007
Buku adalah cinta pertama aku dan suamiku. Bisa dibilang kami saling tertarik karena buku. Aku selalu mengagumi pria-pria yang suka membaca dan suamiku sebaliknya. Alhasil awal pertemanan kami diisi dengan berbagai diskusi tentang buku. Beberapa buku yang menarik perhatian kami dan kemudian dijadikan bahan diskusi adalah Dunia Sophie, lalu buku Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cintanya Muhidin M Dahlan, kemudian Paradoksnya Ana Nadhya Abrar dan tentu saja Laila Majnun. Waktu itu, rsanya begitu menyenangkan memiliki seseorang yang mempunyai minat baca yang sama…tapi itu dulu .
Setelah menikah, kami baru menyadari minat kami tentang buku benar-benar berbeda. Aku mencintai Novel, bagiku memahami sesuatu lebih mudah melalui cerita, biasanya aku juga membaca latar belakang penulis novel tersebut untuk lebih memahami maksud dan tujuan buku tersebut. Karena aku percaya sebuah cerita selalu menggambarkan sikap hidup, nilai-nilai yang diyakini dan idealisme si penulis. Maka aku belajar berbagai ideology melalui buku. Juga sejarah, walaupun untuk mengetahui perbedaan fiksi dan fakta dalam novel sejarah adalah sesuatu yang harus dilakukan hati-hati tapi aku menikmatinya. Karena Sejarah bagiku adalah cerita tentang seseorang atau sekelompok orang. Sementara suamiku, dia senang sekali membaca buku-buku sains. Pemikiran seseorang harus dibaca langsung pada karyanya. Dia selalu berusaha mencari sumber pertama. Jika aku mencoba memahami feminisme melalui buku Nawal el Sadawi dan sosialisme melalui Pram. Maka dia langsung membaca semua itu pada buku Madilog Tan Malaka dan buku-buku Fritjof Capra. Jika aku memaknai waktu dengan sejarah, dia memahami waktu melalui Einstein. Baginya sains adalah kunci segala pengetahuan, sementara bagiku cerita dalam bentuk apapun (novel, cerpen, memoar) adalah pembuka mata jiwa.
Maka perjalanan rumah tangga kami diiringi dengan "pemaksaan"buku, aku memaksa suamiku membaca cerita-cerita yang menggugah jiwa, dan dia memaksaku membaca buku-buku sains yang menggerakkan logika. Pada akhirnya kami menyadari, seperti yang pernah kutulis pada sebuah imel untuknya, bahwa Allah mempertemukan kami agar aku belajar berpikir dan dia belajar merasa. Dengan demikian kami menemukan keseimbangan dalam penggunaan Nalar dan Rasa. Bukankah Dia telah mengatur segalanya dengan begitu sempurna?!
Posted at 06:12 pm by pipitkecil
Permalink
Aku baru namatin satu buku, judulnya Armanusa: Kala Hati Terbelah. Buku itu ditulis sama Sinta Yudisia, anggota Forum Lingkar Pena(FLP). Diterbitin sama Mizan. Aku salut dengan FLP, dengan kegigihan mereka untuk membuat orang mau menulis, dan mencetak penulis2 yang lumayan berprestasi. Dan aku pengagum sebagian dari penulis2 itu. Aku membaca tulisan-tulisan mereka sejak masih bertebaran di berbagai majalah. So, ketika buku-buku mereka mulai terbit, aku termasuk yang mengoleksi setiap judulnya. Waktu itu hanya dua penerbit yang menerbitkannya Mizan dan As Syamil. Dan aku bangga dengan Mizan, sebuah penerbitan yang memiliki idealisme tersendiri. Aku sudah membaca buku-buku terbitan Mizan sejak SD. Tapi bersamaan dengan meningkatnya anggota FLP dan semakin banyaknya buku yang mereka terbitkan baik sendiri maupun dengan penerbit-penerbit besar lainnya, aku justru kecewa. Kenapa karena buku-buku yang diterbitkan menurutku sebagai penikmat buku, kadang diterbitkan dengan tergesa-gesa dan tidak diedit dengan sempurna, hingga jauh kualitasnya dengan pendahulu-pendahulu mereka. Aku tak bermaksud mengecilkan hati mareka, kupuji setulus hati keberanian mereka menerbitkan buku tidak sepertiku yang hanya bisa menulis diblog ini. Tapi sebagai penikmat buku, sebagai konsumen aku rasanya berhak untuk protes. Seringkali ketika memilih buku untuk dibeli ada dua pertimbangan yang harus kupikirkan, membeli buku yang ditulis penulis luar yang sudah mendapat pujian dan ulasan dari berbagai surat kabar atau tokoh, sehingga terjamin kualitasnya, atau memilih penulis dalam negeri dalam rangka mensupport our local literacy. Seringkali aku memilih yang kedua. Dan akhir2 ini pilihan itu membuatku cemberut selesai membaca buku, karena buku yang kupilih tidak memuaskanku. Puncaknya adalah ketika terakhir kali aku membeli buku dan memilih buku diatas. Aku tidak mengatakan buku itu sangat jelek, tapi buku itu antara judul, bagian pendahuluan dan bagian penutupnya sama sekali tidak fokus. Kenapa harus bercerita panjang lebar tentang Konstantine, jika tokoh utamanya Armanusa dan Qays, kenapa tidak lebih menggali tokoh Qays itu sendiri. Kenapa juga harus menggantung cerita diakhirnya?. Akhirnya aku tidak bisa menarik kesimpulan dari buku itu. Aku tak mengerti maksud buku itu, apakah ingin menceritakan tentang Armanusa dan Konstanstine yang merupakan tokoh-tokoh muda yang menginginkan perubahan bagi negerinya yang sedang menuju gerbang kehancuran. Ataukah ingin menggambarkan kegamangan seorang gadis yang sedang memasuki hidup barunya? Ataukah ingin menggambarkan bahwa penaklukan yang dilakukan kaum muslimin di mesir tidaklah barbar seperti stigma orang2 barat selama ini atau apa?. Bukan kali pertama aku membeli buku yang ditulis anggota flp yang berakhir dengan kekecewaan. Tapi saat ini rasanya aku jadi trauma membeli buku2 anggota FLP, kecuali mungkin buku2 yang ditulis oleh para pendiri FLP, yang saat ini sayang sekali jarang menerbitkan buku sendiri.
Posted at 06:09 pm by pipitkecil
Permalink
My Super Sweet sixteen
Pernah liat acara itu ngga di MTV???...ngga ngerti deh gimana pola pikir orangtua2 itu, sampe anaknya jadi ngga manner n spoiled abis gitu. Sekedar info aja bwt yang belum pernah nonton sama sekali. Acara itu nyeritain sixteen party-nya cewe-cewe di Amrik sono, mulai dari persiapan sampe acaranya berlangsung. Yang perlu digarisbawahi, cewe2 ini rata2 atau semuanya dari kalangan MAMPU BERAT dan bertekad bikin party yang ngga terlupakan sampe bertahun2 kemudian. Perlu diinget kalo mereka ini cewe-cewe yang terlahir dengan sendok emas di mulut (u know what I mean), dan parahnya lagi ortu mereka ngasih apapun yang mereka mau, sampe akhirnyamereka jadi anak-anak kaya manja yang terbiasa diikutin semua keinginannya. Dan itu jelas2 kegambarin di semua scene di acara itu. Mereka bakal ngelakukain apa aja…I mean EVERY SINGLE THINGS, supaya keinginan mereka kecapai, termasuk memaki, menjerit dan menangis…bukan meraung tepatnya buat dapetin yang mereka mau. Dan they have NO respect to their parents. Ngga salah juga sih, abis ortu mereka itu kaya ksapi dicocok idungnya, segala yang mereka mau dikasih, poko’nya mereka akan ngelakuin apa aja biar si anak hepi n tersenyum, termasuk ngasih perhiasan berlian dan mobil mewah banget(yang menurut si anak murah). Apa mereka ngga nyadar kalo prilaku yang kaya gitu tuh bakal ngerusak si anak. Kalo gw jadi cowo, amit-amit deh punya pacar kaya mereka yang ngga bisa apa-apa, kecuali morotin uang doang. Takjub deh liat acara-acara kaya gitu, tapi yang jelas ada pelajaran berharga banget yang bisa diambil dari tayangan bodoh itu. The way you raised your child was seen from their attitude. So for me, it was not given everything they want, but teach them to reach their dream with their own hands. Bener-bener pelajaran berharga bwt jadi orangtua yang baik. Soalnya, siapa sih yang pengen punya anak-anak manja kaya cewe-cewe itu???
Posted at 06:02 pm by pipitkecil
Permalink
Tuesday, April 03, 2007
Sebelumnya gw nyatain disini gw NGGA SETUJU sama resolusi PBB bwt Iran, apapun alasannya. Bwt gw itu bukti dominasi Amerika dan Israel di dunia, dan kita ngga bisa apa-apa. Cuma bukan itu yang mau gw bahas disini. Gw prihatin aja sama mereka yang aksi bwt resolusi itu dengan bawa bendera2 agama. Bukan ngelarang sih, itu sah-sah aja. Cuma kenapa sih kalo isyunya Iran, Palestine, Israel, Amerika. Cepet banget tanggapannya, cepet banget koordinasinya bwt aksi. Tapi kenapa kalo isyu2nya lokal, kayanya lambat perhatiannya, Buktinya korban Lapindo teriak-teriak sendirian aja tuh, lsm2 yang ikut protes cuma lsm-lsm lingkungan. Padahal mereka orang Islam kan? termasuk umat juga kan? Kenapa mereka yang lebh dekat sama kita ngga dibantu bwt dapetin haknya, toh mereka juga korban kedzaliman, nyata-nyata malah korban kapitalis, siapa dibelakang kapitalis ini? Ya orang2 yang sama dengan yang ngegolin resolusi bwt Iran. Aku masih ingat sekitar 3-4 tahun lalu, pada seorang temanku yang aktivis KAMMI di taman Ganesha, aku bertanya kenapa KAMMI selalu terdepan dalam isyu-isyu internasional, isyu-isyu yang sarat nuansa politik, isyu-isyu yang kontroversial, tapi jarang sekali mengusung isyu-isyu lokal yang lebih membumi. Dia tidak bisa menjawabnya. Sampai saat ini pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku kepada semua organisasi yang membawa bendera agama. Apa sih yang melatarbelakangi pemilihan suatu isyu? Benar-benar solidaritaskah? Atau tanpa disadari lebih pada pertimbangan strategis? Bukankah Rasulullah sendiri mengajarkan untuk membantu dulu yang terdekat, tetanggamu, baru orang lain. So, Kenapa sih????
Posted at 06:49 pm by pipitkecil
Permalink
Tuesday, March 13, 2007
Duh males banget nulis apa-apa, diem di depan komputer aja rasanya cape mata ini, kenapa ya sekarang bawaannya ngantuuuuukkk terus...ntah cuaca atau ada syndrom apa gitu, ni mata bawaannya ngantuk terus...udah ah, emang bener2 blank mau nulis apa. Ini juga biar ngga sepi-sepi amat bolgnya.
Posted at 12:48 pm by pipitkecil
Permalink
Wednesday, February 14, 2007
Bandung Book Fair atau Islamic Book Fair ???
Rada telat sih postingannya, tapi waktu seminggu itu belum juga bisa nemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di dalam batin ini(hah??...naon seeh?). Jadi begini..waktu denger ada book fair di Bandung, udah semangat 45 gitu deh, kebayangnya bisa nemuin jurnal2 jadul, sama ngunjungin penerbit2 yang buku2nya susah dicari di toko buku, gara-gara kurang populer. Nah dengan begitu besar ekspektasi yang muncul, datanglah aku sama si Aa teh ke Book Fair. Taunya nyampe sana yang ada bengong aja gituh ...sempet mikir ini teh landmark atau palasari? soalnya agen2 buku teh pada pindah kesana semua. Trus bukunya juga, buku-buku islami semua. Bukannya ngga suka, tapi kan namanya book fair, tapi kalo isinya 90% buku rohani mah garink atuh. Book fair itu tempat kita bisa nyari penerbit-penerbit kecil, buku-buku lama dan baru yang ngga mainstream(ngarti kan maksudnya). Lha kalo kemaren...satu judul buku aja bisa ditemuin di lima counter. Poko'nya aku kecewa...KECEWA SKALI sama penyelenggara Bandung Book Fair 2007. Kalo cuma kaya gitu mah, ke palasari aja, harga sama, malah lebih komplit.
Posted at 03:16 pm by pipitkecil
Permalink
Monday, January 29, 2007
Pagi itu aku baru saja naik ke ruangan atas untuk membuat susu coklat dan kopi hangat untukku dan suamiku. Karena ibuku baru tiba di Bandung, akupun langsung mencarinya. Ternyata mamaku tersayang itu lagi sibuk mengamati pepohonan di taman (biasalah…sidak), tak lama tangannya sibuk mencabuti beberapa dedaunan yang tumbuh liar. “Lagi ngapain sih ma?” tanyaku heran.. “Ini lagi penasaran sama tanaman ini, kok banyak banget, masa sih ngga bisa dimanfaatin buat apa gitu, mau dilalap tapi daunnya berbulu gini” terang mama sambil terus sibuk mencabuti dan mengamati tanaman2 tersebut. Aku hanya geleng-geleng kepala, lalu kembali masuk meneruskan acara bikin kopiku.
Siangnya aku kuliah filsafat lingkungan, dan dosenku menerangkan tentang teori Gaia, suatu teori yang bisa menjawab mengapa bumi selalu diidentikan sebagai perempuan. Kemudian aku teringat penjelasan dosenku sebelumnya, tentang sebuah penelitian yang menunjukan bahwa pengelolaan lingkungan akan lebih berhasil bila melibatkan kaum perempuan. Penelitian itu memperlihatkan apabila laki-laki dan perempuan mencari kayu ke hutan, laki-laki cenderung mengambil kayu dengan cara menebang pohon, sementara perempuan hanya akan mengambil ranting-ranting yang berserakan. Contoh lainnya adalah apabila laki-laki dan perempuan diberi sebidang tanah untuk ditanami, laki-laki cenderung menanam pohon besar yang bernilai ekonomi tinggi, sementara perempuan akan menanam berbagai tanaman yang dapat digunakan untuk konsumsi setiap hari, jadi tumbuhan yang ditanaman, adalah tumbuhan berbuah, tanaman obat, tanaman bumbu.
Dan ketika aku teringat ibuku yang sibuk meneliti satu tanaman baru di halaman rumahku, aku serasa menemukan pembenaran atas teori tersebut. Mungkin karena sifat keibuan yang tinggi, perempuan cenderung lebih welas asih terhadap berbagai jenis mahluk hidup, sifat menjaga dan melestarikan yang melekat kuat pada sifat keibuan tersebut mendukung perempuan untuk menjaga dan melindungi segala sesuatu yang hidup(tentu dengan beberapa pengecualian untuk beberapa musuh kaum hawa…seperti tikus dan kecoa…hehe…). Selain itu, walaupun perempuan seringkali dikatakan boros, sebetulnya penggunaan sesuatu oleh kaum perempuan biasanya lebih optimal daripada laki-laki, terbukti dengan pemanfaatan lahan kosong tersebut. Mungkin juga karena perempuan lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan utama dan kenyamanan, sehingga perempuan menjadi mahluk yang lebih ekonomis, jika laki-laki lebih memilih keuntungan besar yangdidapat secara langsung, perempuan memilih keuntungan-keuntungan kecil tapi berkelanjutan.
Sekali lagi perbedaan laki-laki dan perempuan ini selalu membuatku takjub atas diciptakannya keseimbangan melalui dua sosok yang berpasangan oleh sang maha pencipta. Sekali lagi aku menemukan kebesarannya dan kebenaran ayatnya. Dan yang utama, sekali lagi aku mensyukuri nasibku yang terlahir sebagai seorang perempuan.
Posted at 04:35 pm by pipitkecil
Permalink
Tentang aku yang perempuan
Mungkin karena jenis kelaminku perempuan, sesuatu tentang kaumku selalu menarik untuk kubaca, kutelaah dan kuamati. Dan semua hasil pengamatan itu membuatku semakin bersyukur atas lahirnya aku sebagai seorang perempuan, dengan segala kelebihannya dan juga kekurangannya dan kelemahannya...karena itu tulisan-tulisan selanjutnya kudedikasikan untuk kaum perempuan.
Posted at 04:20 pm by pipitkecil
Permalink
|