Jus rasa buah impor dan nasib buah2 lokal qta
Salah sebuah iklan jus di televisi, mempromosikan produknya sebagai jus yang mampu memberikan cita rasa buah impor yang asli, dan akupun bertanya-tanya, memangnya kenapa dengan buah dalam negeri?
Sungguh ironis, Indonesia merupakan sebuah negara megabiodiversity, artinya Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Bahkan berada dalam peringkat 2 dunia di bawah Brasil. Indonesia kaya akan berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Tapi jika qta belenja buah-buahan dan sayur-sayuran ke supermarket, maka jarang sekali akan kita temukan buah-buahan asli Indonesia. Apel Fiji, jeruk mandarin, durian bangkok, pisang california, pepaya mexico adalah beberapa diantara buah-buahan yangi. dijual di supermarket. Padahal untuk pisang saja, qta mengenal pisang ambon, pisang raja (raja cere dan raja bulu) dan berbagai jenis pisang lainnya. Tapi untuk mencarinya harus di tempat-tempat tertentu (di pasar atau jika di bandung salah satunya adalah di sepanjang jalan cipaganti). Durianpun sama, di supermarket besar sering dijual durian monthong dengan harga murah, padahal jika dari segi rasa, durian lampung atau medan tidak kalah enak, hanya sangat sulit dicari.
Kembali ke jus rasa buah impor, saat ini di mall-mall menjamur kedai-kedai jus, yang sayangnya menggunakan bahan dasar buah2 impor. Alasan yang digunakan oleh para pengusaha kedai ini, adalah harga yang lebih murah, stok yang lebih banyak dan rasa yang lebih sesuai. Padahal kalau berbicara soal harga, buah lokalpun bisa murah jika saja kebijakan pemerintah mendukung dan permintaan pasar banyak. Stok yang adapun melimpah, jika saja jalur distribu buah-buahan ini berjalan dengan baik(tak jarang buah2an sampai membusuk karena distribusi yang tidak lancar), dan soal rasa sebetulnya itu hanya soal kreativitas saja, mungkin para peracik jus itu malas bereksperimen dengan buah-buahan lokal, karena lebih mudah meniru rasa buah-buah impor, seperti jus dalam iklan di TV itu.
Aku sungguh tidak mengerti dengan pemerintah ini, bahkan ketika menteri pertaniannya dipegang oleh akademisi di bidang pertanian dan Presidennya mendapat gelar doktor dari institut pertanian terbesar dan terbaik di negeri ini, kebijakan di bidang pertanian tidak juga berubah. Bukankah Indonesia adalah negara agraris? Lalu kenapa qta bisa berhadapan dengan masalah ketahanan pangan? Sungguh Aneh.
Posted at 06:10 pm by
pipitkecil